Kamis, 22 Juli 2010

MEMANFAATKAN DANA HIBAH UNTUK BELAJAR BERWIRAUSAHA

MEMANFAATKAN DANA HIBAH UNTUK BELAJAR WIRAUSAHA
*Ahmad Ajib Ridlwan

Surabaya kota pahlawan itulah julukan kota terbesar di Indonesia yang memiliki banyak potensi. Di bidang ekonomi, banyak sekali investor yang melirik surabaya untuk menanamkan modalnya. Sedangkan di bidang pariwisata, Kota Pahlawan mempunyai banyak ikon pariwisata dengan keindahan panoramanya mampu mengikat jutaan hati wisatawan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Apabila potensi-potensi tersebut dikelola dengan baik akan meningkatkan APBD kota Surabaya yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi selanjutnya akan berdampak pada pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran.
Namun fakta bukan demikian, kota dengan segudang potensi ini belum bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakatnya buktinya kemiskinan, pengangguran masih tinggi yang lebih ironis lagi pengangguran kaum intelektual (lulusan Sarjana dan Diploma) kembali mendapat sorotan. Bahkan mereka yang lulus Perguruan Tinggi semakin sulit mendapatkan perkejaan, karena tidak banyak terjadi ekspansi kegiatan usaha. Dalam keadaan seperti ini maka masalah pengangguran termasuk yang berpendidikan tinggi akan berdampak negatif terhadap stabilitas sosial dan kemasyarakatan.
Pengangguran kaum intelektual selama kurun waktu 3 berturut-turut mengalami kenaikan. Pada tahun 2006 pengangguran kaum intelektual sebanyak 375,600 orang sedangkan tahun 2007 sebesar 409,900 orang. Pada tahun 2008 kembali mengalami kenaikan dibanding 2007 yaitu sebesar 626,200 orang. Dan tahun 2009 sebesar 626,600 orang. (sumber: Media Indonesia edisi Kamis, 20 Agustus 2009). Mengapa demikian?padahal sudah seharusnya mahasiswa itu menjadi agen perubah yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan (job creator) bukan pencari kerja (job seeker).
Kondisi seperti dipengaruhi oleh banyak faktor yang salah satunya adalah disebabkan karena sistem pembelajaran yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi lebih fokus pada bagaimana menyiapkan pada mahasiswa cepat lulus dan mendapatkan perkejaan, bukan lulusan yang siap menciptakan pekerjaan.
Disamping itu, atmosfir kewirausahaan (Entrepreneurial Atmosphire) di perguruan tinggi masih relatif masih rendah. Hal ini terbukti dengan adanya mata kuliah kewirausahaan hanya 2 SKS tiap semester itupun sudah termasuk teori dan praktek. Padahal dirjen dikti telah memberikan dana hibah sebanyak 1 M kepada perguruan tinggi untuk Progam Mahasiswa Wirausaha atau yang akrab disebut dengan PMW.
Sebagai contoh, Universitas Negeri Surabaya dua tahun berturut-turut mendapatkan hibah sebesar 1 M untuk wirausaha mahasiswa. Progam yang pertama kali dirintis oleh Dr. Purwohandoko, M.M. dan tahun 2010 digawangi oleh Drs. Kirwani, S.E. MM. tersebut mampu melahirkan wirausaha baru yang mewarnai dunia usaha di kota surabaya dengan berbagai macam produknya. Berbeda dengan tahun lalu, peserta PMW tahun ini peserta yang mengikuti progam ini lebih banyak.
Tidak hanya Universitas Negeri Surabaya yang mendapatkan hibah ini. PTN dan PTS di Surabaya juga mendapatkan hibah serupa. Melaui progam ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana untuk belajar berwirausaha bagi mahasiswa sehingga dapat menambah income selama kuliah selanjutnya ketika lulus kelak para mahasiswa tidak susah mencari kerja karena semasa kuliah mereka sudah merintis usaha sendiri.
Selain PMW (Progam Wirausaha Mahasiswa), Dirjen Dikti melalui DP2M (Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) juga menyediakan dana hibah kepada mahasiswa melalui progam PKM (Progam Kreativitas Mahasiswa) yang terdiri dari 4 jenis yaitu PKM-Penelitihan, PKM-Techlonogi, PKM-Kewirausahaan, dan PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat. Dalam progam ini mahasiswa dituntut untuk membuat proposal kegiatan yang berhubungan dengan 4 jenis PKM diatas selanjutnya proposal tersebut diseleksi. Proposal yang telah deseleksi akan mendapatkan hibah sekitar 5 juta – 10 juta tergantung skala progam yang direncanakan. Sebenarnya banyak sekali hibah dari dirjen dikti yang bisa digunakan untuk modal pancingan mendirikan usaha.
Nah, dari sini mahasiswa bisa belajar untuk berwirausaha sejak dini sehingga apabila lulus nanti tinggal mengembangkan usaha yang telah dirintis selama berada dibangku perkuliahan. Semakin banyak wirausaha baru, tidak mustahil pengangguran di kota pahlawan ini dapat berkurang khususnya pengangguran yang berpendidikan tinggi.
Disini penulis mengajak seluruh elemen masyarakat kampus dari berbagai PTN dan PTS di Kota Pahlawan ini untuk lebih mengoptimalkan progam-progam tersebut guna menumbuhkan jiwa Entrepreneur sejak dini. Selain itu, atmosfir kewirausahaan (Entrepreneurial Atmosphire) di perguruan tinggi itu lebih digalakkan lagi dengan cara mengadakan seminar dan pelatihan kewirausahaan, pembinaan, pendampingan dan monitoring terhadap usaha mahasiswa yang sudah berjalan. Monitoring dilakukan untuk mengetahui perkembangan usaha mahasiswa dan menganalisis permasalahan guna mencari solusi tepat guna dalam rangka mewujudkan usaha yang berkelanjutan.
Mahasiswa merupakan kaum intelektual yang termasuk asset bangsa yang paling berharga. Mahasiswa akan memegang roda kepemimpinan di masa yang akan datang. Karena merupakan asset terbesar bangsa, mahasiswa harus dikelola, dibina dan diberdayakan. Perlu diingat!!! “Untuk Mengerti Kewirausahaan, Kewirausahaan Itu Tidak Hanya Dipelajari Namun Harus Dijalankan”.


*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi Koperasi Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya. Saat ini sebagai staf Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar